Indicator

Seorang sopir ketika berkendara tak mungkin menghiraukan indikator mesin atau mobil yang dikendarainya. beberapa indikator yang paling penting diantaranya adalah indikator kecepatan, indikator RPM (putaran mesin), indikator heat (panas mesin),  indikator  fuel (BBM) dan juga kaca sepion.

Indikator adalah penentu langkah  dan petunjuk utama bagi seorang sopir. Tanpa indikator, tak mungkin sopir bisa mengendalikan mobil dengan sempurna.

Begitu juga  halnya dalam management organisasi ataupun perusahaan. Sopir itu identik dan disamakan dengan seorang direktur (pengarah) . Yaitu seseorang yang bertugas mengarahkan laju perusahaan serta kearah mana bisnis hendak dijalankan.

Dalam bisnis, indikator yang dipakai biasanya  adalah laporan keuangan, cash flow keuangan, laporan rugi-laba, perilaku pelanggan dan karyawan, laju inflasi, pergerakan  nilai mata uang serta undang undang  kebijakan pemerintah. Indikator inilah yang dipakai seorang direktor untuk mengarahkan perusahaan yang dia pimpin.

Tanpa indikator dan data yang valid, seorang direktur tak kan mampu mengendalikan perusahaan. Seperti halnya seorang sopir yg tak mampu mengendarai mobil dg baik bilamana tanpa indikator.

Internet dan Media Sosial

Beberapa tahun yang lalu, ketika Internet pertama kali di perkenalkan dan di promosikan banyak sekali orang mencibir dan berpendapat apriori tentangnya. Bahkan ada yang skeptis dan berpendapat bahwa, “bisa saja yg ngetik di Internet itu anjing”.
Bahkan ada salah satu profesor yang sering menghiasi layar TV mengatakan bahwa, “data di google dan internet” tidak valid alias bohong belaka. 
Dulu, pendapat itu sih boleh dan sah sah saja. Namun, sekarang tdk bisa lagi, karena saat ini jejak digital bisa dilacak atau di trace and tracing. Artinya pendapat awal seperti di atas sudah terpatahkan. Sebagai contoh yang paling update saat ini adalah bocornya dokumen rahasia oleh “wikileaks”
Saat ini di era derasnya arus informasi lewat Media Sosial, jejak kita pribadi dan atau perusahaan tertinggal dimana mana dan tak mungkin di sangkal lagi. Jejak bisa terekam dengan jelas di facebook, twitter, google, youtube, dll. Jejak jejak tersebut terekam dengan baik dan  membuka ruang pada publik  berkenaan dengan siapa diri kita.
Contoh yang paling spektakuler tentang jejak digital adalah  “shinta - Jojo” dan “briptu Norman” bisa memanfaatkan layanan You Tube.
Di jejaring sosial facebook, profile  pengguna terpasang sangat lengkap. Dari tanggal lahir, sekolah, asala, jenis kelamin dan banyak informasi pribadi lainnya. Awal eforia facebook, user selalu menuliskan biodata secara lengkap. Ditambah lagi, sering posting hal pribadi dan foto foto pribadi. Dengan mengamati komentar komentar pribadi, akhirnya terkuaklah secara terbuka personality diri kita. Namun, kesalahan ini sepertinya sudah mulai disadari oleh pengguna.
Lain facebook lain pula twitter. Kalau di twitter, kita hanya bisa membaca karakter orang apabila dia rajin berkicau atau ngetwit. Kalau dia jarang ngetwit atau tergolong “pencari informasi” maka tak akan tahu karakter di balik akunnya.
Kadang di facebook dan twitter kita atau perusahaan sering “jaga image”. Namun ada peribahasa “sepandai pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga”. Artinya sepandai pandai kita atau perusahaan “jaga image”, akhirnya toh terbongkar juga siapa esensi diri kita. Terlebih lagi di twitter, facebook atau youtube.
Mestinya Google, Facebook dan Twitter itu mempermudah kita mencari pasangan hidup (bagi yg belum punya), menemukan pelanggan bagi perusahaan dan mempelajari perilaku konsumen. Jangan sampai terjadi sebaliknya, bahwa medio sosial menjadi lahan subur untuk penipuan.
Di media sosial ada istilah  diam adalah emas, karena kita mendapatkan banyak informasi disana. Namun, posting hal hal penting dan bermanfaat adalah intan.

Sumber :
http://csmcargo.tumblr.com/post/4855838690/media-sosial

Trending Topics

Iseng  mencoba melihat beda antara Trending Topic Local Jakarta, Trending Topic  Indonesia dan Tending Topic worldwide. Ternyata bedanya jauh sekali bro.... Coba lihat gambar gambar berikut dan bandingkan :

1. Trending Topic Jakarta



2. Trending Topic Indonesia


3. Trending Topic Worldwide


Kecelakaan Truk

pengangkut semen terjadi lagi di sepanjang Pantura (jalan utama Pantai Utara Jawa dari Jakarta hingga Surabaya). Pagi tadi sekitar pukul 5 WIB, mobil truk pengangkut semen mengalami kecelakaan di  Pasar Tumpah Brebes. Truk menyeruduk sekumpulan pedagang di pinggir jalan., karena menghindari mobil angkot yang sembarangan parkir dan lalu lalang di jalanan.  Tujuh pedagang tewas, empat diantaranya tewas seketika di tempat kejadian perkara

Jalur pantura ini memang kerap kali terjadi kecelakaan lalu lintas. Berikut ini adalah beberapa sebab kecelakaan  yg disimpulkan penulis dari pengalamannya sebagai seorang sopir.

1. Sopir truk lalai atau dalam keadaan mengantuk berat. Mobil truk ekspedisi dari arah Jakarta menuju  Semarang biasanya berangkat dari Jakarta jam 6-8 malam. Menjelang subuh (sekitar jam 2 s/d jam 4) biasanya truk ekspedisi masuk brebes dan sekitarnya. Setelah mengendara sekitar 8 jam, kelelahan sang dalam kondisi capek dan ngantuk yang sangat. Pada kondisi ini tingkat kerawanan akan kecelakaan sangat tinggi.

2. Disaat yang bersamaan, ketika subuh menjelang, banyak sekali angkot dan abang2 becak parkir dan menyeberang sembarangan. Ini terjadi hampir di sepanjang jalan antara Brebes hingga Pekalongan. Kondisi ini sebagai akibat langsung dari adanya pasar tumpah pada jam jam tersebut. Pasar tumpah, angkot dan tukang becak adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ketiganya menjadikan penyebab kemacetan yang luar biasa dan kerawanan akan kecelakaan.

3. Tidak ada aparat kepolisian dan DLLAJR yang berjaga pada jam jam rawan tersebut. Hal ini bisa dimaklumi. Jumlah aparat yang terbatas dan sudah bersiaga sejak sore. Tak mungkin mengharapkan aparat keamanan untuk mengatur lalu lintas diwaktu dinihari.

Ketiga hal tersebut kiranya bisa jadi renungan kita bersama untuk sama sama memperbaiki. Pihak pengguna jalan (ekspedisi, trucking dan transportasi) menjaga kelayakan mobil dan kesehatan sopir. Pihak aparat  mencari solusi berkenaan dengan regulasi pengaturan jam piket. Pihak PD PASAR memulai untuk menertibkan pasar tumpah yang ada.

Sumber :

http://www.csmcargo.com/component/content/article/15-artikel-cargo/229-kecelakaan-truk.html

Kisah Inspiratif Susi Pudjiastuti dg Susi Air nya

Ingin pinjam uang di Bank dianggap gila , akhirnya jual cincin dan perhiasan yg dia punya buat modal bakul ikan. Keputusannya keluar dari sekolah saat masih berusia 17 tahun sangat disesalkan oleh kedua orang tuanya. Namun, berkat keuletan dan kerja kerasnya, kini Susi Pudjiastuti memiliki 50 pesawat dan pabrik pengolahan ikan yang berkualitas untuk melayani kebutuhan ekspor.

Namanya Susi Pudjiastuti, Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti yang bergerak di bidang perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang merupakan operator penerbangan Susi Air. Rambutnya ikal kemerahan, suaranya serak-serak, namun pembawaannya supel.

Bukan hanya bahasa Inggris fasih yang keluar dari mulutnya saat berbincang dengan para pilotnya yang bule. Susi – panggilan akrabnya – juga menggunakan bahasa Sunda dan sesekali bahasa Jawa kepada pembantu-pembantunya.

“Saya suka belajar bahasa apa aja. Yang penting bisa buat marah dan memerintah. Sebab, dengan itu, saya bisa bekerja,” ujarnya sambil lantas tertawa. Saat ini, wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 tersebut, memiliki 50 unit pesawat berbagai jenis. Di antaranya adalah Grand Caravan 208B, Piaggio Avanti II, Pilatus Porter, serta Diamond DA 42. Kebanyakan pesawat itu dioperasikan di luar Jawa seperti di Papua dan Kalimantan.

“Ada yang disewa. Namun, ada yang dioperasikan sendiri oleh Susi Air. Biasanya dipakai di daerah-daerah perbatasan oleh pemda atau swasta,” jelas wanita yang betis kanannya ditato gambar burung phoenix dengan ekor menjuntai itu.

Susi tak mematok harga sewa pesawat secara khusus. Sebab, hal itu bergantung pelayanan yang diminta pihak penyewa. Biaya sewanya pun bermacam-macam, tapi rata-rata antara USD 400 sampai USD 500 per jam. “Kadang ada yang mau USD 600 sampai USD 700 per jam. Perusahaan minyak mau bayar USD 1.000 karena beda-beda level servis yang dituntut. Untuk keperluan terbang, semua piranti disediakan Susi Air. Pesawat, pilot, maupun bahan bakar. Jadi, itu harga nett mereka tinggal bayar,” tegasnya.

Bakat bisnis Susi terlihat sejak masih belia. Pendirian dan kemauannya yang keras tergambar jelas saat usia Susi menginjak 17 tahun. Dia memutuskan keluar dari sekolah ketika kelas II SMA. Tak mau hidup dengan cara nebeng orang tua, dia mencoba hidup mandiri. Tapi, kenyataan memang tak semudah yang dibayangkan.
“Cuma bawa ijazah SMP, kalau ngelamar kerja jadi apa saya. Saya nggak mau yang biasa-biasa saja,” ujarnya.

Kerja keras pun dilakoni Susi saat itu. Mulai dari berjualan baju, bed cover, hingga hasil-hasil bumi seperti cengkeh. Setiap hari, Susi harus berkeliling Kota Pangandaran menggunakan sepeda motor untuk memasarkan barang dagangannya. Hingga, dia menyadari bahwa potensi Pangandaran adalah di bidang perikanan. “Mulailah saya pengen jualan ikan karena setiap hari lihat ratusan nelayan,” tuturnya.

Pada 1983, berbekal Rp 750 ribu hasil menjual perhiasan berupa gelang, kalung, serta cincin miliknya, Susi mengikuti jejak banyak wanita Pangandaran yang bekerja sebagai bakul ikan. Tiap pagi pada jam-jam tertentu, dia nimbrung bareng yang lain berkerumun di TPI (tempat pelelangan ikan). “Pada hari pertama, saya hanya dapat 1 kilogram ikan, dibeli sebuah resto kecil kenalan saya,” ungkapnya.

Tak cukup hanya di Pangandaran, Susi mulai berpikir meluaskan pasarnya hingga ke kota-kota besar seperti Jakarta. Dari sekadar menyewa, dia pun lantas membeli truk dengan sistem pendingin es batu dan membawa ikan-ikan segarnya ke Jakarta. “Tiap hari, pukul tiga sore, saya berangkat dari Pangandaran. Sampai di Jakarta tengah malam, lalu balik lagi ke Pangandaran,” ucapnya mengenang pekerjaan rutinnya yang berat pada masa lalu.

Meski sukses dalam bisnis, Susi mengaku gagal dalam hal asmara. Wanita pengagum tokoh Semar dalam dunia pewayangan itu menyatakan sudah tiga kali menikah. Tapi, biduk yang dia arungi bersama tiga suaminya tak sebiru dan seindah Pantai Pangandaran. Semua karam.

Dari suaminya yang terakhirlah, Christian von Strombeck, si Wonder Woman ini mendapat inspirasi untuk mengembangkan bisnis penerbangan. “Dia seorang aviation engineer,” lanjutnya. Christian merupakan seorang ekspatriat yang pernah bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara yang sekarang bernama PT DI, Red). Awal perkenalannya dengan lelaki asal Prancis itu terjadi saat Christian sering bertandang ke Restoran Hilmans milik Susi di Pantai Pangandaran. Berawal dari perkenalan singkat, Christian akhirnya melamar Susi. “Restoran saya memang ramai. Sehari bisa 70-100 tamu,” katanya.

Dengan Christian, Susi mulai berangan-angan memiliki sebuah pesawat dengan tujuan utama mengangkut hasil perikanan ke Jakarta. Satu-satunya jalan, lanjut Susi, adalah dengan membangun landasan di desa-desa nelayan. “Jadi, tangkap ikan hari ini, sorenya sudah bisa dibawa ke Jakarta. Kan cuma sejam,” tegas ibu tiga anak dan satu cucu tersebut.

Berbeda jika harus memakai jalur darat yang bisa memakan waktu hingga sembilan jam. Sesampai di Jakarta, banyak ikan yang mati. Padahal, jika mati, harga jualnya bisa anjlok separuh.

“Kami mulai masukin business plan ke perbankan pada 2000, tapi nggak laku. Diketawain sama orang bank dan dianggap gila. ‘Mau beli pesawat USD 2 juta, bagaimana ikan sama udang bisa bayar,’ katanya,” ujar Susi.

Barulah pada 2004, Bank Mandiri percaya dan memberi pinjaman sebesar USD 4,7 juta (sekitar Rp 47 miliar) untuk membangun landasan, serta membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan. Namun, baru sebulan dipakai, terjadi bencana tsunami di Aceh. “Tanggal 27 kami berangkatkan satu pesawat untuk bantu. Itu jadi pesawat pertama yang mendarat di Meulaboh. Tanggal 28 kami masuk satu lagi. Kami bawa beras, mi instan, air dan tenda-tenda,” ungkapnya.

Awalnya, Susi berniat membantu distribusi bahan pokok secara gratis selama dua minggu saja. Tapi, ketika hendak balik, banyak lembaga non-pemerintah yang memintanya tetap berpartisipasi dalam recovery di Aceh. “Mereka mau bayar sewa pesawat kami. Satu setengah tahun kami kerja di sana. Dari situ, Susi Air bisa beli satu pesawat lagi,” jelasnya.

Perkembangan bisnis sewa pesawat miliknya pun terus melangit. Utang dari Bank Mandiri sekitar Rp 47 miliar sekarang tinggal 20 persennya. “Setahun lagi selesai. Tinggal tiga kali cicilan lagi. Dari BRI, sebagian baru mulai cicil. Kalau ditotal, semua (pinjaman dari perbankan) lebih dari Rp 2 triliun. Return of investment (balik modal) kalau di penerbangan bisa 10-15 tahun karena mahal,” katanya.

Susi tak hanya mengepakkan sayap di bisnis pesawat dan menebar jaring di laut. Sekarang, dia pun merambah bisnis perkebunan. Meski begitu, dia mengakui ada banyak rintangan yang harus dilalui. “Perikanan kita sempat hampir rugi karena tsunami di Pagandaran pada 2005. Kami sempat dua tahun nggak ada kerja perikanan,” tuturnya.

Untuk penerbangan rute Jawa seperti Jakarta-Pangandaran, Bandung-Pangandaran dan Jakarta-Cilacap, Susi menyatakan masih merugi. Sebab, terkadang hanya ada 3-4 penumpang. Dengan harga tiket rata-rata Rp 500 ribu, pendapatan itu tidak cukup untuk membeli bahan bakar. “Sebulan rute Jawa bisa rugi Rp 300 juta sampai Rp 400 juta. Tapi, kan tertutupi dari yang luar Jawa. Lagian, itu juga berguna untuk mengangkut perikanan kami,” ujarnya.

Susi memang harus mengutamakan para pembeli ikannya, karena mereka sangat sensitif terhadap kesegaran ikan. Sekali angkut dalam satu pesawat, dia bisa memasukkan 1,1 ton ikan atau lobster segar. Pembelinya dari Hongkong dan Jepang setiap hari menunggu di Jakarta. “Bisnis ikan serta lobster tetap jalan dan bisnis penerbangan akan terus kami kembangkan. Tahun depan kami harap sudah bisa memiliki 60 pesawat,” katanya penuh optimisme.

Semoga Kisah Ibu Susi ini bisa memacu semangat Generasi Muda Negeri ini untuk berani berusaha dan mau bekerja keras! Tidak hanya berharap bisa bekerja sebagai pegawai saja, tetapi justru bisa menciptakan lapangan kerja baru di tengah sempitnya lapangan kerja saat ini.

Sumber: EntreMagz http://www.indonesiaberprestasi.web.id/?p=5709

Pelayanan Jasa Cargo

Jasa cargo itu bermacam pembagiannya. Menurut  jenis service yang diberikan, paling tidak bisa dibagi menjad 4 kategori service. keempat kategori tersebut adalah Door To Door ( DTD),  Door To Port (DTP), Port To Door (PTD) dan yang terakhir adalah Port To Port (PTP). Untuk penjelasan dari keempat hal tersebut adalah sebagai berikut :

Port To Port (PTP) adalah salah satu layanan dari  jasa cargo yang diberikan kepada pelanggan dengan moda port to port atau point to point. Dalam hal ini port bisa berarti pelabuhan laut (sea port), pelabuhan udara (bandara / air port), setasiun (untuk moda transportasi via kereta) atapun pangkalan truk (gudang atau pool).

Dalam service ini, penyedia jasa cargo hanya mengurusi transportasi barang dari point to point saja. Misalkan dari cengkareng airport (jakarta) ke Achmad Yani Airport (Semarang). Service ini, sama sekali tidak ada proses pick up (penjemputan barang) ataupun delivery (pengantaran barang).
Dari semua service yang diberikan, ini harganya paling murah. Karena memang fariabel biayanya paling kecil.

Door To Door ( DTD), adalah salah satu layanan jasa cargo yang diberikan kepada pelanggan dengan moda door to door atau pintu ke pintu atau seringpula disebut dengan dari rumah ke rumah. Service ini memberikan kemudahan paling besar bagi pelanggan. Pengirim barang tinggal telpon ke penyedia jasa cargo, maka barang akan di pick up (diambil) di alamat pengirim. Sedangkan di tujuan, penerima barang tinggal menunggu kedatangan barang di rumah atau alamat. Kalau barang terlambat datang, yang bersangkutan tinggal complain (telpon) ke jasa cargo, untuk menanyakan kenapa barang terlambat.

Service ini paling gampang bagi pengguna jasa. Tinggal angkat telepon, selesai semuanya. Karena kemudahan tersebut, maka biaya atau ongkos kirim service ini paling mahal dibandingkan dengan ketiga yang lain.

Door To Port (DTP), adalah salah satu layanan jasa cargo yang diberikan kepada pelanggan dengan moda door to port atau dari pintu hinggan port atau pelabuhan, bandara, setasiun tujuan. Service ini memberikan kemudahan pada pengirim barang. pengirim tinggal telpon jasa cargo, maka barang akan di pick up (jemput). Sedangkan penerima barang harus mengambil di port atau  pelabuhan atau setasiun tujuan.

Port To Door (PTD), adalah salah satu layanan jasa cargo yang diberikan kepada pelanggan dengan moda port to door atau dari port ke pintu. Service ini merupakan kebalikan dari layanan door to port. Kalau door to port memberi kemudahan pada pengirim, maka port to door memberi kemudahan pada penerima barang.

Kemajiban pengirim barang adalah mengantar barang kiriman ke pelabuhan asal, sedangkan penerima barang tinggal menunggu di rumah atau alamat untuk pengantaran.
Di twitter timbul pertanyaan dari @elnuevo77  tentang minimum pengiriman barang. Kami jawan singkat aja bahwa kiriman  ke jasa cargo semisal TNT, Fedex biasanya  minimum  pengiriman adalah 1 kg. Namun untuk langsung kirim ke airlines akan dikenakan minimum 45 kg.Break 45 kg itu hanya berlaku untuk pengiriman international. Sedangkan pengiriman domestik semisal  @IndonesiaGaruda minimum pengiriman adalah 10 kg. Sedangkan kriman barang via kapal cargo mimimum adalah 1 container.

lambang saribuana

Pengiriman Hewan Piaraan

Jasa cargo adalah jasa pengiriman barang. Macam barang kiriman itu bermacam macam, terkadang live animals seperti anak ayam, ikan hias dan binatang piaraan. Penyedia jasa ini  harus mematuhi apa saja yang tertera didalam peraturan perundangan  yang tertuang didalam Live Animals Manual.

Secara umum syarat syarat pengiriman binatang hidup diantaranya adalah :

1. Binatang secara fisik harus terlihat sehat, bisa bertahan hidup lama  yang disesuaikan dengan lama waktu perjalanan pesawat.

2. Binatang tidak boleh dlm kondisi hamil tua, kecuali ada surat resmi dari dokter hewan dan menerangkan bahwa binatang tdk akan melahirkan selama perjalanan, dan tidak melahirkan dalam kurun waktu tertentu.

3. Pengepakan (kandang) harus kuat, baik, bersih, rapi dan yang paling penting adalah tahan bocor.

4. Pengepakan harus disertai label "live animals" standar yang diterbitkan oleh perusahaan pengangkut.

5. Didalam kandang harus disertakan makanan dan disesuaikan untuk waktu tertentu selama perjalanan.

6. Reservasi untuk cargo harus confirm, terlebih apabila kiriman termasuk dalam connecting flight atau transit atau penerbangan lanjutan.

Keenam hal tersebut kami muat dalam twitter dan mendapat respon positif dari dokter hewan @elievia dan seorang penyayang binatang @elnuevo77 . Keduanya menyoroti tentang pentingnya  "karantina" dan peraturan pemerintah setempat  dalam proses pengiriman live animals. 
Menurut dokter @elievia bahwa ada daerah tertentu melarang hewan tertentu karena alasan kesehatan, seperti rabies dll. Sedang @elnuevo77 menyoroti tentang arti pentingnya karantina demi keamanan hewan piaraan.
 

Pengecekan Container

Seringkali pelanggan yang  menggunakan jasa container menjumpai  barang didalam container dalam kondisi rusak atau basah. Padahal, ketika proses muat tampak sekali kalau kontainer dalam kondisi bagus. Ketika barang datang, kondis container masih bagus, seal masih ada dan tak tampak adanya kerusakan fisik container.
Hal ini seringkali terjadi, dan biasanya disebabkan oleh "container bocor". Kebocoran ini banyak sekali faktor penyebabnya dan kita tak membahasnya di sini. Untuk mengantisipasi kerugian, berikut ini adalah cara cara untuk memilih container yang baik (tidak bocor) :
  
1. Proses pengecekan  kebocoran container hanya bisa dilakukan di siang hari, tidak bisa malam hari dan disarankan untuk tidak mencek kondisnya disaat cuaca mendung.

2. Kita harus masuk kedalam container dan tutup rapat rapat pintunya. Sehingga kondisi didalam adalah pengab, kurang oksegen dan gelap gulita. Ketika kondisi seperti inilah maka kita tahu ada kebocoran  atau tidak. Sekecil apapun kebocoran pasti akan terdeteksi. Apabila dalam kegelapan tersebut ada sinar matahari masuk dari lobang (sekecil jarum pun), bisa disimpulkan  dalam keadaan bocor.  Apabila tidak ada kebocoran, maka tidak akan ada sinar masuk ke dalam container tersebut.

TLC - Tree Letter Codes

Hati hati dengan TLC - Tree Letter Codes, yaitu kode 3 huruf untuk menandai seluruh bandar urada di dunia. Terkadang membingungkan, atau malah bisa menyesatkan. 
 
Contoh : BDJ : Banjarmasin sedangkan DJB : jambi, bedanya sedikit bukan ? Contoh lainnya adalah : SOC itu solo sedangkan  SOQ itu  Sorong. BTH  itu bermakna batam dan  BTJ bermakna  BandaAceh.
 
Link berikut adalah nama nama airport di Inonesia lengkap dengan  TLC nya :
http://csmcargo.com/home-mainmenu-1/15-artikel-cargo/81-nama-nama-airport-di-indonesia.html

Negeri Calo


Kalau  mau kirim barang cargo lewat salah satu maskapai penerbangan, sebut saja salah satunya Garuda Indonesia di Bandara Sukarno Hatta - Cengkareng,  maka kita tidak bisa berhubungan langsung dg maskapai penerbangan, namun harus dengan calo atau broker. Kalau nekat melawan aturan tidak tertulis ini, bisa bisa keselamatan barang yg dipertaruhkan. Atau, minimal barang kiriman akan delai dalam pemberangkatan.

Kalau  mau sewa truk di pangkalan truk  Pulo Gadung, misalkan untuk keperluan pindah rumah. Maka kita tidak bisa langsung bernegosiasi dengan sopir truk, namun kita akan berurusan dengan calo. Kalau langsung dengan sopir, secara serempak sopir2 tersebut juga menolak tawaran kita. Entah mereka takut, atau apalah alasannya. Yang jelas, tanpa melibatkan calo, bisnis atau sewa truk tak akan jadi transaksi.

Kalau  ke gudang container di kawasan Tanjung priok untuk mengambil "emty container atau container kosong" dengan keperluan untuk muat barang, maka kita pun mesti berhubungan langsung dengan calo. Kalau kita langsung ke shipping lines, maka mereka akan bilang kalau container kosong semua sudah di booking. Namun, jika kita minta jasa calo, berapapun banyak jumlah container yang dibutuhkan akan selalu ada.

Ternyata di negeri yang subur makmur bernama Indonesia ini, semua lini kehidupan kita dikuasai oleh calo. egeri calo itu terlalu kasar. Bahasa yang lebih halus adalah  negeri broker, bahasa kasarnya negeri mafia. Indonesia is Mafioso state.

Di  jaman  penjajahan kolonial belanda dulu,  jika berurusan dg pemerintah harus lewat perantara org yg bisa bahasa belanda. Mereka umumnya antek antek kompeni yang menginjak injak martabat anak negeri dan menjilat kaki penjajah. Kini indonesia merdeka sudah berbilang tahun, namun jikalau  berurusan dg pemerintah mesti lewat calo. Lalu apa bedanya pemerintah kita dengan pemerintah kolonial ????