Beberapa tahun yang lalu, ketika Internet pertama kali di perkenalkan dan di promosikan banyak sekali orang mencibir dan berpendapat apriori tentangnya. Bahkan ada yang skeptis dan berpendapat bahwa, “bisa saja yg ngetik di Internet itu anjing”.
Bahkan ada salah satu profesor yang sering menghiasi layar TV mengatakan bahwa, “data di google dan internet” tidak valid alias bohong belaka.
Dulu, pendapat itu sih boleh dan sah sah saja. Namun, sekarang tdk bisa lagi, karena saat ini jejak digital bisa dilacak atau di trace and tracing. Artinya pendapat awal seperti di atas sudah terpatahkan. Sebagai contoh yang paling update saat ini adalah bocornya dokumen rahasia oleh “wikileaks”
Saat ini di era derasnya arus informasi lewat Media Sosial, jejak kita pribadi dan atau perusahaan tertinggal dimana mana dan tak mungkin di sangkal lagi. Jejak bisa terekam dengan jelas di facebook, twitter, google, youtube, dll. Jejak jejak tersebut terekam dengan baik dan membuka ruang pada publik berkenaan dengan siapa diri kita.
Contoh yang paling spektakuler tentang jejak digital adalah “shinta - Jojo” dan “briptu Norman” bisa memanfaatkan layanan You Tube.
Di jejaring sosial facebook, profile pengguna terpasang sangat lengkap. Dari tanggal lahir, sekolah, asala, jenis kelamin dan banyak informasi pribadi lainnya. Awal eforia facebook, user selalu menuliskan biodata secara lengkap. Ditambah lagi, sering posting hal pribadi dan foto foto pribadi. Dengan mengamati komentar komentar pribadi, akhirnya terkuaklah secara terbuka personality diri kita. Namun, kesalahan ini sepertinya sudah mulai disadari oleh pengguna.
Lain facebook lain pula twitter. Kalau di twitter, kita hanya bisa membaca karakter orang apabila dia rajin berkicau atau ngetwit. Kalau dia jarang ngetwit atau tergolong “pencari informasi” maka tak akan tahu karakter di balik akunnya.
Kadang di facebook dan twitter kita atau perusahaan sering “jaga image”. Namun ada peribahasa “sepandai pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga”. Artinya sepandai pandai kita atau perusahaan “jaga image”, akhirnya toh terbongkar juga siapa esensi diri kita. Terlebih lagi di twitter, facebook atau youtube.
Mestinya Google, Facebook dan Twitter itu mempermudah kita mencari pasangan hidup (bagi yg belum punya), menemukan pelanggan bagi perusahaan dan mempelajari perilaku konsumen. Jangan sampai terjadi sebaliknya, bahwa medio sosial menjadi lahan subur untuk penipuan.
Di media sosial ada istilah diam adalah emas, karena kita mendapatkan banyak informasi disana. Namun, posting hal hal penting dan bermanfaat adalah intan.
Sumber :
http://csmcargo.tumblr.com/post/4855838690/media-sosial


